Motivation

Posted by Zaky Sulaiman On 12 - 01 - 2009

• Anda akan mencapai kemungkinan-kemungkinan yang sukses dan menyejahterakan, jika Anda membantu sebanyak mungkin orang lain untuk mencapai kemungkinan baik bagi mereka -Mario Teguh-.

Spiritual

Posted by zaky Sulaiman On 12 - 4 - 2009

Spiritualitas menyangkut sesuatu yang Universal yaitu Value,meaning, purpose dalam hidup manusia. -zaky Sulaiman-

Marketing

Posted by Zaky Sulaiman On 12 - 03 - 2009

The Art of Marketing specializes in delivering marketing and sales expertise in distinctive, creative and caring ways that enable small business owners to conquer obstacles, find their focus and achieve results.

Leadership

Posted by Zaky Sulaiman On 11 - 23 - 2009

The art of leading comes down to one thing: facing reality, and then acting decisively and quickly on that reality.trust, respect, empowerment, reward and punishment. -stanley atmadja CEO adira-

Negotiation

Posted by Zaky Sulaiman On 12 - 06 - 2009

The choice is not either you negotiate a good deal or you have good relationships. You can have both. You can really negotiate hard over money and other issues, and still come out with a total and complete win-win.- Zaky Sulaiman-

Auditing

Posted by Zaky Sulaiman On 12 - 06 - 2009

THE WORK OF INTERNAL AUDItors is as much an art as it is a science or technique. The internal audit process encompasses far more than a series of rote checklists; it is much more akin to an archeological dig, where layers of information are methodically uncovered. To connect and understand the layers of organizations, the internal auditor must be able to think creatively.

Loading...

MAAF MAS, SAYA TIDAK PUNYA UANG KEMBALIAN…..

Diposkan oleh zaky sulaiman On 03.49 0 komentar

Pak%2BSarno%2BTukang%2BSol%2BSepatu[1]

Cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan condong catur demi menyambung hidup. Mbah sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “mau nonton apa saya malam ini?”, mbah sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”

Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi mbah sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.

Ketika mbah sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

“wah cepat sekali. Berapa pak?”

“5000 rupiah mas”

sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

“wah mas gak ada uang pas ya?”

“nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”

“maaf mas, saya nggak punya uang kembalian”

“waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”

“udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”

“oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”

=============================================================

jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi mbah sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “ikhlas. Insya allah akan dapat gantinya.”

ketika waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

“ya allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakmu.”

selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Ketika ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.

“wah kebetulan kita ketemu disini, pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”

kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.

“loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”

“sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya allah minggu depan saya berangkat ke prancis pak. Saya mohon doanya pak”

“tapi ini terlalu banyak mas”

“saya bayar sol sepatu cuma rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”

=============================================================

Quote:

tuhan punya cara tersendiri dalam menolong hamba-hambanya yang mau berusaha dalam kesulitannya. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan pertolongan itu tiba.

Keikhlasan akan dibalas dengan keindahan.

 

ref : fb note

| edit post


Ide penerapan ijin atau lisensi berbelanja online ini muncul dalam panel diskusi pada forum yang diselenggarakan Komisi Persaingan Usaha dan Konsumen Australia (ACCC), Selasa ini.

Rob Forsyth dari perusahaan keamanan IT Sophos di forum itu mengatakan salah satu cara untuk mengatasi penipuan online adalah dengan mendesak konsumen memiliki lisensi atau ijin berbelanja online.

Karena dengan lisensi tersebut, konsumen mampu menunjukan mereka adalah pembeli yang terdaftar dan ; berhak memberikan masukan ; di situs maupun membeli produk.

"Beberapa tahun lalu, Masyarakat Komputer Australia memiliki ide untuk menerapkan penerbitan ijin mengemudi bagi pengguna komputer," katanya.

"Usul itu tidak terlalu diterima tapi setidaknya menjadi tes dasar bagi orang untuk mendaftar online dan mengisi formulir yang menunjukan mereka paham mengenai prosedur berbelanja online serta mampu bertanggung jawab.

;“Sebagai tambahan, seiring kita beralih ke dunia belanja secara online, dengan kebijakan ini kita bisa memiliki konsumen yang ; paham aturan berbelanja online, bisa memberi skala penilaian atau rating produk dengan efektif dan sekaligus memberi mereka ijin untuk mengakses fasilitas belanja online.

"Ijin khusus ini mungkin akan mengurangi jumlah penipuan. Mekanisme ini juga membuat penjual merasa lebih yakin kalau pembeli produk mereka adalah orang yang telah melalui serangkaian tes dan bisa jadi memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada konsumen yang ada sekarang.”

Forsyth mengatakan beberapa situs telah lebih dahulu menanyakan rincian informasi sebelum mereka menerima masukan dari konsumen yang akan memberi peringkat pada produk mereka di situs.

"Sejumlah tes yang mungkin bisa kita lakukan untuk mendapatkan ijin belanja online ini antara lain misalnya, apakah komputer anda memiliki sistem anti peretas? Apakah sudah di lindungi? Apakah Anda memperbaharui sistem operasi Anda? Dan lain-lain.

"Anda bisa menampilkan berbagai variasi kewaspadaan terkait keamanan dan mungkin juga kebiasaan belanja yang ; baik dengan tidak berbelanja barang ilegal, dan jika anda melakukan ; itu maka anda berada di tingkat dasar.

Komisi Persaingan Usaha dan Konsumen Australia (ACCC) mengatakan total kerugian akibat penipuan di internet pada tahun lalu mencapai $93 juta .

Komisi ini meyakini angka pasti dari total kerugian akibat praktek penipuan belanja online jauh lebih tinggi karena banyak orang yang tidak tahu dirinya tertipu atau terlalu ; malu untuk mengadukannya. Karenanya kiomisi ini memperkirakan penipuan belanja online meningkat 65%.

Otoritas eBay tidak yakin efektif

Wolfgang Weber, Direktur Senior Bidang Aturan dan Kebijakan Global dari situs belanja terkenal ebay mengatakan dirinya tidak yakin kebijakan yang mengatur konsumen seperti ini diperlukan.

"Saya tidak yakin ijin semacam ini bermanfaat,” ; katanya.

"Saya seorang ayah dan anak tertua Saya berusia 12 tahun, dan membayangkan apakah dia membutuhkan ijin sebelum menggunakan internet atau berbelanja online. Saya pikir ini bukan kebijakan yang tepat."

"Tapi bagaimanapun juga, sebagai orang tua saya pikir itu merupakan tanggung jawab saya untuk mendidik anak, tentang apa yang perlu dilakukan di dunia maya dan apa yang tidak, serta juga memberikan pengertian kalau tidak semua hal yang ditulis di internet itu benar.
| edit post

Ketika Menteri Keuangan Tak Punya Uang

Diposkan oleh zaky sulaiman On 02.33 0 komentar

Ketika Menteri Keuangan Tak Punya Uang
 Oleh: Rizki LesusPenggiat Jejak Islam untuk Bangsa

Lili membelai rambut Khalid perlahan. “Kasihan sekali adikmu ini Icah,” kata Lily, panggilan akrab Halimah kepada putri Sulungnya Aisyah. “Waktu dia baru lahir, Ibu dan Ayah tak punya uang sama sekali untuk member gurita (popok) untuk membungkus badannya yang mungil, sehingga Ibu harus menyobek kain kasur dan menjadikannya sebagai gurita,” ujar Lily yang kali ini tak bisa menahan keluarnya air mata.

“Ayah tak punya uang padahal Ayah menteri?!” tanya Icah bingung. “Kenapa bisa? Kata orang, menteri itu orang kaya Bu.”

“Ayahmu menteri keuangan, Icah,” Lily menyeka matanya yang basah. “Ayah mengurusi banyak sekali uang Negara, tetapi dia tak punya uang untuk membeli kain gurita bagi anaknya, adikmu Khalid yang baru lahir. Kalau Ibu tidak mengalami sendiri, Ibu sendiri pasti tak percaya. Tapi itu nyata. Ayahmu sama sekali tak tergoda memakai uang Negara untuk membeli sepotong kain gurita.”

Secuplik dialog antara Teuku Halimah dan Aisyah, mengenang suami dan ayah tercinta Syafruddin Prawiranegara dalam Novel ‘Presiden Prawiranegara’ karya Akmal Nasery Basral. Kisahnya ini benar-benar terjadi seperti penuturan Ajip Rosidi dalam ‘Syafruddin Prawiranegara Lebih Takut Pada Allah SWT’ : “Waktu anak yang ketiga lahir, Chalid, keadaan keluarga itu begitu buruk sehingga untuk membuat gurita bayi pun mereka terpaksa menyobek kain kasur, karena kain biasa tidak ada lagi” (Ajip Rosidi: 2011).

Menteri Keuangan itu…tak memiliki kain lain selain kasur mungilnya. Barang-barangnya hanya ada koper-koper pakaian dan pakaian sekadarnya. Kini setelah pindah dari kontrakkanya di Bandung, ia tinggal ke Jakarta dengan pola hidup berpindah seperti mentornya, Haji Agus Salim (Baca: Ketika Seorang Menteri Mengontrak Rumah).

Namun, lihatlah ketika dijualnya barang-barang seadanya, direlakannya koper-koper pakaian yang baru saja tiba untuk menyambung hidup dirinya dan keluarganya. Sisa barang yang tak dibawa di Bandung digelapkan oleh orang yang dipercaya dititipi, habis sudah harta sang menteri, seperti dikisahkan Ajip Rosidi.

Ketika Pemerintah RI pindah Ke Yogyakarta, dengan kereta segera mereka pindah. Di Yogjakarta, dicarinya kontrakkan, tempat bernaung untuk sang istri dan buah hati, namun keadaan di sana penuh sesak pengungsi. Sang menteri mencari tempat lain, berpindah ke Magelang, hingga Dr. Soekiman (Ketua Masyumi saat itu) memberikan tumpangan tempat di paviliunnya di Pakualaman. Tinggallah ia dan keluarganya, berbagi dengan Mr. Syamsuddin dan juga Dr. Soekiman.

“Meskipun kehiduannya adalah Menteri Keuangan, tetapi dibandingkan dengan kehidupannya taktkala menjadi Kepala Inspeksi Pajak di Kediri, keadaanya jauh lebih sederhana, malah dekat kepada melarat,” masih kata Ajip Rosidi.

Sukun Goreng Dagangan Ibu Menteri

Saat Syafruddin menjadi ‘Presiden’ RI (Ketua PDRI) menggantikan Soekarno (Baca Sekitar PDRI –Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Mr. SM Rasjid) dan memerintah di Sumatera, sang Istri yang ditinggalkan sendiri di Yogyakarta sampai harus berjualan sukun goreng untuk menghidupi anaknya, padahal bisa saja mereka mendapat akses ke Pejabat, atau meminta bawahan suaminya untuk ‘korupsi’.

Tapi lihatlah ketika Akmal Nasery Basral mengisahkan dialog Siti Halimah bersama Icah. Saat berjualan sukun itu, ada protes kecil dari Icah, anaknya, “Kenapa kita tidak minta bantuan saja pada Presiden Om Karno, dan Wakil Presiden Om Hatta, serta Om Henkie (Hamengku Buwana IX)?” tanya Icah.

“Ayahmu sering mengatakan kepada ibu, agar kita jangan bergantung pada orang lain, Nak..” kata ibunya. “Tapi apa ibu tidak malu? Ayah orang hebat, keluarga ayah dan ibu juga orang-orang hebat,” sergah Icah lagi.

“Iya, sayang. Ibu mengerti, tapi dengarkan ya. Yang membuat kita boleh malu, adalah kalau kita melakukan hal-hal yang salah, seperti mengambil milik orang lain yang bukan hak kita, atau mengambil uang negara. Itu pencuri namanya. Orang-orang mungkin tidak tahu, tapi Allah tahu,” kata Lily, memberi penjelasan pada anak sulungnya itu.

Kelak, sejarah akan berdecak kagum ketika Syafruddin Prawiranegara mengembalikan 29 kilogram emas kepada Negara yang terpendam sebagai cadangan untuk perjuangan PRRI di Sumatera. “..dilakukan penggalian dan emasnya pun diambil. Jumlah semuanya ada 29 kilogram. Emas itu kemudian secara resmi diserahkan oleh Syafruddin kepada Pejabat Presiden Djuanda pada bulan Maret 1962, yang kemudian meneruskannya kepada Menteri/Gubernur Bank Indonesia Sumarno, SH sebagai kekayaan Negara.” (Ajip Rosidi: 2011)

Secercah Keteladanan

Djohan Efendi dalam Mencari Pemimpin yang Berintegritas pernah menuturkan kisah Ketika Pak Syaf (sapaan akrab Syafruddin Prawiranegara) akan menerima tamu. “Pak AR Baswedan pernah bercerita kepada saya tentang Almarhum Pak Syafruddin yang saat itu menjabat Gubernur Bank Indonesia pertama setelah dinasionalisasi. Suatu saat Pak Baswedan menghubungi Pak Syafruddin memintakan waktu untuk seorang temannya, pengusaha dan tokoh Masyumi dari Surabaya yang ingin bertemu dengan Pak Syafruddin.

Pak Syafruddin bertanya, dalam kapasitas apa dia ingin menemuinya. Dan Pak Baswedan menjawab bahwa beliau kurang pasti. Lalu Pak Syafruddin mengatakan kepada Pak Baswedan bahwa kalau dia ingin bertemu untuk urusan pribadi silahkan menemuinya di kediaman beliau diluar jam kantor, kalau untuk urusan partai silahkan datang ke Kantor Masyumi, dan Pak Syafruddin akan datang ke sana setelah jam kantor.

Tapi kalau urusannya berkaitan dengan Bank Indonesia, Pak Syafruddin mewanti-wanti bahwa Bank In¬donesia bukan kepunyaan Partai Masyumi. Bank Indonesia kepunyaan Negara. Kalau berurusan dengan Bank Indonesia iku-ti saja prosedur resmi yang berlaku bagi semua orang.(Harian Pelita, 14/11/2013)

Sejak awal, Pak Syaf menjadi Menteri menyadari bahwa jabatan adalah amanah, kekuasaan bukanlah segalanya. Saat Natsir mundur sebagai Perdana Menteri, Pak Syaf pun meletakkan jabatanya. Saat menjadi Menteri Keuangan, kesungguhannya terlihat saat dalam periodenya membuat mata uang sendiri, sebagai ciri Negara merdeka, yang dikenal dengan Oeang Republik Indonesia (ORI) yang kini menjadi rupiah.

Saat dilincurkan ORI, Pak Syaf berpesan “..Berhematlah sehemat-hematnya, jangan membeli apabila tak perlu sama sekali, Tanyalah pada tetangga, apakah dia tidak kekurangan sesuatu apapun dan apabila kita mempunyai persediaan makanan buat lebih dari lima hari, berikanlaj kelebihan itu kepada tetangga yang kekurangan itu, hendakanya hjangan kita mau mencaru untung saja, tetapi kita harus berani juga menderita kerugian..”

“Keluarnya uang republik Indonesia bukan berarti bahwa kita nanti boleh goyang kaki dan hidup senang-senang saja, bahkan sekarang sebaliknya sekaranglah baru tiba saatnya untuk bekerja segiat-giatnya membangun secar teratur dan sistematis” (Ajip Rosidi: 2011)

Mungkin, para pejabat penikmat uang rupiaj kini lupa, kalau ‘hasil’ yang mereka nikmati terselip kemelaratan Menteri Keuangannya silam yang menerbitkan uang yang kini hilir mudik. Mungkin, dibalik jejak van toefel di atas karpet merah di sana, ada langkah-langkah Pak Syaf yang menjejak, masuk ke kampung-kampung dan hutan-hutan becek, menemui rakyatnya yang sedang kesulitan.

Mungkin, di antara kenikmatan aroma teh dan ceplok telor sarapan pagi kita, terselip saling berbagi antar tetangga di masa silam,” Tanyalah pada tetangga, apakah dia tidak kekurangan sesuatu apapun dan apabila kita mempunyai persediaan makanan buat lebih dari lima hari, berikanlaj kelebihan itu kepada tetangga yang kekurangan itu,” tegas Pak Syaf.

Pak Syaf mengajarkan bahwa bukanlah materi berlimpah sumber kemuliaan, tetapi nilai-nilai seperti kesederhanaan, perjuangan, juga pertolongan Allah merupakan tuntunan hidupnya. “Mungkin sekali orang disebut kaya, jika ditinjau dari sudut kebendaan, adalah miskin kalau ditinjau dari sudut ketenangan jiwa..”

Sambil tersenyum di hadapan para Mahasiswa tahun 1957 ia melanjutkan,”Sebaliknya orang yang miskin kalau diukur dengan ukuran materi, dapat disebut cukup karena orang yang bersangkutan memang tidak merasa dan memandang dirinya miskin!”

“Perasaan harga diri, inilah yang harus dididik pada rakyat kita dan tidak ada satu hal yang lebih menghalang-halangi tumbuhnya dan merusak harga diri itu dari pada paham materialism, yang memandang kemakmuran kebendaan itu sebagai suatu ideal, suatu tujuan suci!”

“..Demikianlah, maka, jikalau kita hendak membanguyn suatu masyarakat yang bukan saja makmur, tetapi juga adil, kecuali minta pertolongan rasio dari ilmu ekonomi, kita harus terlebih dahulu mohon pertolongan Ilahi. “

“..Krisis ekonomi dan politik Indonesia ini pada hakikatnya merupakan krisis kepercayaan dan moral yang tidak dapat diobati dengan alat-alat dan cara-cara lain melainkan hanya kembali kepada Tuhan melalui norma agama dan moral, yang menyuruh kita, bukan mengejar kekayaan, melainkan untuk mengabdi dan berkorban guna kepentingan sesame manusia!” pidatonya menggelegar.

Ketika Wakil Presiden Mohammad Hata tak mampu membeli sepatu impiannya hingga akhir hayatnya. Ketika Perdana Menteri Mohammad Natsir dengan jas tambalnya mengayuk sepeda ontel ke kontrakkanya. Ketika Diplomat Ulung, Menlu itu berpindah-pindah kontrakkan dari satu gang ke gang lainnya. Kelak, ‘dongeng’ ini akan dibacakan kepada putra-putri kita sebelum tidurnya.

| edit post

Orang Miskin Membayar Lebih

Diposkan oleh zaky sulaiman On 03.29 0 komentar



Orang miskin bukan hanya karena berpendapatan rendah. Pada kenyataannya orang menjadi miskin juga lantaran mereka harus membayar lebih. Tengok saja fenomena masyarakat desa kita yang sekarang keranjingan telepon seluler. Hampir semua penduduk desa itu berlangganan secara prabayar. Untuk itu mereka harus membayar lebih. Mereka membeli pulsa Rp.5.000 dengan harga Rp.6.000, 20% lebih mahal daripada tarif yang dibayar oleh orang kaya.

Orang miskin di kota tidak memiliki tabungan bank. Untuk membayar tagihan telepon, listrik atau air mereka harus pergi ke loket atau menggunakan jasa pembayaran kolektif. Itu berarti mereka membayar lebih untuk transportasi atau jasa kolektor, dibanding si kaya yang punya fasilitas auto-debet. Jangan tanya berapa biaya lebih kalau orang miskin meminjam uang. Bila rekan mereka yang super-kaya bisa mendapat kredit bank pemerintah dengan bunga 8-10%, maka pedagang di pasar Jombang harus membayar Rp.10.000 per hari selama sebulan penuh untuk pinjaman senilai Rp.200.000 kepada “bank suwek”. Bunga yang mereka bayar tidak kurang dari 600% per tahun!

Orang miskin juga membayar lebih untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Mereka tidak punya keleluasaan untuk berbelanja sekaligus kebutuhan seminggu, melainkan harus belanja harian di pedagang sayur keliling atau warung kampung. Untuk itu mereka harus merelakan biaya tambahan 20-30% daripada kalau mereka menyempatkan belanja ke pasar. 

Kesempatan atau waktu adalah barang langka bagi orang miskin, karena hanya itulah yang mereka punya untuk memperoleh penghasilan. Sayangnya tidak semua waktu mereka bisa menghasilkan uang. Sebagian waktu mereka harus dialokasikan untuk menunggu. Bila anda tinggal di Bekasi dan bekerja di Jakarta, anda harus rela menunggu antrian bis dan kemacetan. Untuk tiba di kantor pukul 8 pagi anda harus siap berangkat dari rumah pukul 5. Tiga jam menunggu untuk bisa berangkat kerja, dan 2-3 jam lagi sewaktu pulang kerja. Orang miskin menukar tenaga mereka untuk uang. Mereka bekerja lebih keras tetapi uang tetap kurang. Tenaga mereka diperas, uang mereka juga diperas!


Hukuman bagi orang miskin

Seorang teman saya yg telah bekerja lebih dari 25 tahun di perbankan mengatakan bahwa melayani 1.000 orang yang meminjam Rp.10 juta membutuhkan biaya jauh lebih besar daripada melayani 1 orang klien yang pinjam Rp.10 milyar. Maka sudah pasti bunga yang dikenakan kepada klien besar jauh lebih kecil daripada kepada nasabah kecil. Scale matters. Jadi, fenomena ‘orang miskin membayar lebih’ bukan masalah ‘keserakahan’. Kemiskinan berkenaan dengan sistem. Kalau anda susah karena miskin, maka sistem membuat anda lebih susah lagi. Sistem menghukum orang miskin melalui pengenaan premi kemiskinan.

Prahalad (The Fortune at the Bottom of Pyramid, 2009) menyebut fenomena orang miskin cenderung membayar lebih untuk makan, belanja dan meminjam uang dengan istilah poverty penalty, hukuman bagi orang miskin. Menurut Prahalad lagi, hukuman bagi orang miskin itu disebabkan oleh minimnya akses kepada distribusi dan panjangnya rantai pedagang perantara. Prahalad mengusulkan agar organized private sector (perusahaan-perusahaan besar) mengatasi kedua masalah tersebut dengan membangun jejaring distribusi barang sampai jauh ke desa-desa. Ia meyakini bahwa upaya tersebut akan menurunkan biaya. Apa yang dibayangkan Prahalad kira-kira sama dengan apa yang dilakukan Bulog untuk menjaga harga beras.

Prahalad bersusah payah meyakinkan private sector tentang betapa besarnya pangsa pasar dan profitabilitas di segmen orang miskin yang disebutnya bottom of pyramid segment. Sayang sampai sekarang belum ada “bulog-bulog swasta” yang menyambut gagasannya itu. Dalam sistem ekonomi kapitalis, peluang di bottom of pyramid masih jauh dari visible. Atau paling tidak, kapitalis melihat banyak peluang lain yang lebih baik misalnya eksploitasi sumber-sumber alam.

Melawan kemiskinan dengan koperasi

Mungkin kita perlu membalik perspektif Prahalad. Ketimbang mengorganisasikan suplai, kemiskinan dapat dilawan dengan mengorganisasikan permintaan. Orang miskin didorong untuk bersatu, lantas secara kolektif mereka bisa membeli kebutuhan mereka. Kerjasama tersebut akan dapat memotong jalur distribusi dan meminimumkan biaya pedagang perantara. Biaya premi kemiskinan dengan sendirinya bisa jauh berkurang.

Tidak ada yang aneh dengan gagasan di atas karena sejatinya itulah keinginan Bapak Bangsa tatkala merumuskan pasal 33 UUD 1945 bahwa “perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan”. “Asas kekeluargaan itu ialah koperasi,” tulis Bung Hatta pada tahun 1951 di bawah tajuk “Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun”. Hatta di sana telah menyinggung dua faktor penyebab poverty penalty yang disebutkan Prahalad. Dengan tegas Hatta menyampaikan bahwa koperasi diperlukan dan bertugas untuk menangkalnya. Ada tujuh tugas koperasi menurut Hatta. “Tugas koperasi yang ketiga,” kata Hatta, “ialah memperbaiki distribusi...dengan begitu koperasi lebih mudah memenuhi kebutuhan bersama.” “Tugas keempat ialah memperbaiki harga agar menguntungkan masyarakat.” Tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan mencegah “penjualan barang semata-mata di tangan orang dagang.” 

Mengingat Hatta dan cita-cita yang terkandung di pasal 33 UUD 1945 itu, terus terang saya merasa miris. Betapa jauhnya kita dari cita-cita itu. Betapa tertinggalnya institusi koperasi kita dalam membela hajat hidup orang miskin. Selama Orde Baru, bahkan sampai sekarang, institusi koperasi terus dirundung krisis integritas. Pameo “KUD adalah Ketua Untung Duluan, anggota ngemplang belakangan” menjadi petunjuk betapa koperasi telah membusuk sampai ke pusat syarafnya, yaitu pada hakekatnya yang oleh Hatta didefinisikan sebagai “persekutuan cita-cita”. Tidak ada lagi cita-cita bersama, koperasi telah tenggelam ke dalam perjuangan untuk kepentingan orang-seorang. 

Sebab keterpurukan koperasi Indonesia boleh saja dinisbahkan kepada otoritarianisme Orde Baru karena telah melenyapkan kontrol anggota kepada pengurus. Namun demikian, kecenderungan saat ini yang memandang kemiskinan sebagai problem individual, oleh karena itu dapat dipecahkan oleh prinsip kemurah-hatian korporasi (dalam bentuk donasi maupun CSR) dan negara (BLT, bantuan sosial, kredit bersubsidi), justru memperburuk keadaan. Individualisme (dalam pengertian egoisme) tidak berkurang padahal individualita (dalam pengertian kebanggaan-diri dan kepercayaan mampu mengatasi masalah sendiri) malah merosot.

Dalam kondisi seperti itu, berapapun pertumbuhan ekonomi dan tingkat daya saing kita, saya tidak akan heran bila kemiskinan justru makin bertambah.



Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fb...count=1&ref=nf

| edit post
Diposkan oleh zaky sulaiman On 22.45 0 komentar
"Kisah Pak Tua Dan Tong Sampah"

Seorang pria tua yang bijak memutuskan untuk pensiun dan membeli rumah mungil dekat sebuah SMP. Selama beberapa minggu ia menikmati masa-masa pensiunnya dengan tenang dan damai. Kebetulan saat itu sedang masa liburan sekolah.

Tak berapa lama kemudian, masa sekolah tiba. Dan, sekolah itu pun penuh dengan anak-anak. Suasana tenang dan nyaman menjadi sedikit berubah. Namun yang paling menjengkelkan pak tua adalah, setiap hari ada tiga anak laki-laki lewat di depan rumah yang suka memukuli tong sampah yang ada di pinggir jalan. Mereka membikin keributan sepanjang hari dan berulah seolah-olah menjadi pemain perkusi hebat. Begitu terus dari hari ke hari.

Sampai akhirnya pak tua merasa harus melakukan sesuatu pada mereka. Keesokan harinya, pak tua keluar rumah sambil tersenyum lebar menghampiri tiga anak laki-laki yang sedang asyik memukuli tong sampah.

Ia menghentikan permainan mereka, dan berkata, “Hai, anak-anak! Kalian pasti suka bersenang-senang. Saya suka sekali dengan cara kalian bersenang-senang seperti ini. Sewaktu saya masih kecil, saya juga suka bermain-main seperti kalian. Nah, apakah kalian mau saya beri uang?” “Mau.. mau..” sahut ketiga anak itu serempak. “Okay, begini,” pak tua itu tersenyum. Lalu ia mengeluarkan tiga lembar uang ribuan dari sakunya.

Katanya, “Masing-masing dari kalian saya beri uang seribu. Tapi kalian harus berjanji mau bermain-main di sini dan memukuli tong sampah ini setiap hari.” Anak-anak itu senangnya luar biasa. Sejak itu setiap hari mereka “bekerja”memukuli tong sampah itu dengan penuh semangat.

Beberapa hari kemudian, pak tua itu menghampiri dan menyambut “pekerjaan” mereka dengan penuh senyum. Namun kali ini senyumnya tampak agak sedih. Katanya, “Nak, kalian tahu khan situasi krisis akhir-akhir ini membuat uang pensiun saya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.” Ia menarik nafas dalam-dalam.

Anak-anak itu menunggu apa yang diucapkannya. Lanjut pak tua. “Mulai hari ini saya hanya bisa membayar kalian lima ratus saja untuk tugas kalian memukuli tong sampah ini.” Anak-anak itu tampak kecewa dengan keputusan pak tua, namun mereka masih bisa menerimanya. Lalu mereka melanjutkan tugas mereka membuat keributan sepanjang hari.

Beberapa hari kemudian, pak tua itu dengan wajah memelas mendekati anak-anak yang sedang memukuli tong sampah. Katanya, “Maaf, bulan ini saya belum menerima kiriman uang pensiun. Saya hanya bisa memberi kalian bertiga seribu Rupiah saja.”

“Apa..? Seribu untuk bertiga?,” protes pemimpin pemain tong sampah itu. ” Apa pak tua kira kami ini mau menghabiskan waktu kami di sini hanya untuk uang segitu? Ah, yang benar saja! Pak tua ini tidak masuk akal. Mulai hari ini kami tidak mau lagi melakukan tugas ini lagi. Kami keluar.”

Ketiga anak lelaki itu pergi meninggalkan pak tua itu dengan bersungut-sungut. Dan, sejak hari itu pak tua menikmati ketenangan hingga akhir hayatnya.

Kadang dalam hidup ini, kita perlu mengalah. Mengalah bukanlah berarti kalah. Tetapi mengalah menunjukkan kearifan dan kelapangan dada.
| edit post
Diposkan oleh zaky sulaiman On 22.31 0 komentar
"Induk Rusa Yang Menepati Janjinya"

Seekor induk rusa bersama dengan kedua anaknya yang sudah mulai belajar berjalan. Ketika itu pagi buta saat kedua anaknya masih tidur, induk rusa keluar pergi mencari makanan, dia bermaksud setelah pulang ia akan mengajar anak-anaknya mencari makan serta menjaga diri menghindari dari bahaya.

Setelah mendapat makanan rumput hijau yang segar, di perjalanan pulang ia terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh pemburu. Sambil menangis, induk rusa itu memikirkan kedua anaknya.

Sang pemburu akhirnya tiba, induk rusa berlutut memohon kepada pemburu untuk membiarkannya pulang ke rumah memberi makan serta mengajari anaknya mencari makan, dia berjanji keesokkan harinya akan kembali ke sini menyerahkan diri.

Pemburu melihat rusa ini dapat berbicara, di dalam hatinya sangat terkejut dan gembira, dia memutuskan akan mempersembahkan rusa ajaib ini kepada raja, supaya dia menjadi terkenal dan mendapat hadiah dari raja. Tetapi setelah berpikir sejenak, dia berubah pikiran, melepaskan induk rusa pulang.

Induk rusa bergegas berlari pulang, suasana hatinya sangat sedih memikirkan kedua anaknya, setelah sampai dirumah dia berkata kepada kedua anaknya, “Anakku, mama akan menceritakan sebuah kebenaran dan ketidakkekalan di dunia ini kepada kalian, jika kalian sudah memahami kebenaran ini, maka kelak kalian akan siap menghadapi masalah apa pun.”

“Kalian nantinya tidak akan terlalu sedih lagi. Kalian harus ingat hidup ini sangat singkat, segalanya akan berubah tidak pernah abadi, nilai dari keluarga, kasih sayang semuanya tidak abadi….,” ujar induk rusa itu.

Anak-anaknya sambil menangis bertanya, “Lalu kenapa mama masih harus menepati janji kepada orang jahat tersebut?.” Induk rusa berkata, “Tanpa kepercayaan, dunia akan hancur, tidak ada kejujuran dunia akan runtuh, demi kelangsungan dan harapan dunia, saya rela berkorban, daripada menipu orang lain. Mama rela mati demi kejujuran, dari pada menipu untuk hidup.”

Setelah selesai berkata sambil menahan tangisannya induk rusa berlari keluar, anak-anak rusa mengejar dengan sekuat tenaga. Pemburu melihat induk rusa memenuhi janjinya datang kembali, menjadi sangat terharu dengan tangan merangkap di depan dada dan berlutut dia berkata kepada induk rusa, “Engkau bukan seekor rusa biasa, engkau pasti makhluk jelmaan surgawi.”

“Welas asihmu membuat orang sangat terharu, kejujuranmu membuat saya sangat malu. Silahkan engkau kembali, saya tidak akan menyakitimu lagi, bahkan mulai saat ini saya tidak akan menyakiti seekor binatang pun,” kata si pemburu itu.

Pelajaran yang bisa kita petik dari cerita diatas adalah: Sifat welas asih dan kejujuran dari induk rusa ini akhirnya membangkitkan niat baik serta membangkitkan watak dasar dan sisi baik dari pemburu tersebut.
Diposkan oleh zaky sulaiman On 22.05 0 komentar
"Waktu Adalah Nyawa"

Dikisahkan, dibawah sebuah pohon yang rindang, tampak sekelompok anak-anak sedang menyimak pelajaran yang diberikan oleh seorang guru, uniknya, diantara anak–anak itu terlihat seorang kakek duduk bersama mereka, ikut menyimak pelajaran yang diberikan oleh sang guru, kejadian aneh itu ternyata menarik perhatian pemuda yang kebetulan melewati tempat tersebut. Sesuai pelajaran, pemuda yang penasaran tadi menghampiri sang kakek, bertanyalah dia kepada si kakek:

“Kek, apakah kakek seorang guru?

“Bukan…….., jawab si kakek

“Kalau bukan guru, mengapa kakek ikut duduk bersama anak-anak tadi?” si pemuda tambah penasaran

“Apa salahnya duduk dengan anak – anak itu? Ketahuilah aku tadi sedang belajar dengan anak – anak itu,”

"Lho, pelajaran tadi kan untuk anak-anak….., bukan untuk orang tua seperti kakek. Memangnya berapa umur kakek? Kok tidak malu belajar bersama dengan anak-anak itu?”

“Umur ku tahun ini tepat sepuluh tahun…” jawab si kakek itu 

"Waktu Adalah Nyawa"

Dikisahkan, dibawah sebuah pohon yang rindang, tampak sekelompok anak-anak sedang menyimak pelajaran yang diberikan oleh seorang guru, uniknya, diantara anak–anak itu terlihat seorang kakek duduk bersama mereka, ikut menyimak pelajaran yang diberikan oleh sang guru, kejadian aneh itu ternyata menarik perhatian pemuda yang kebetulan melewati tempat tersebut. Sesuai pelajaran, pemuda yang penasaran tadi menghampiri sang kakek, bertanyalah dia kepada si kakek:

“Kek, apakah kakek seorang guru?

“Bukan…….., jawab si kakek

“Kalau bukan guru, mengapa kakek ikut duduk bersama anak-anak tadi?” si pemuda tambah penasaran

“Apa salahnya duduk dengan anak – anak itu? Ketahuilah aku tadi sedang belajar dengan anak – anak itu,”

"Lho, pelajaran tadi kan untuk anak-anak….., bukan untuk orang tua seperti kakek. Memangnya berapa umur kakek? Kok tidak malu belajar bersama dengan anak-anak itu?”

“Umur ku tahun ini tepat sepuluh tahun…” jawab si kakek itu  

"Waktu Adalah Nyawa"

Dikisahkan, dibawah sebuah pohon yang rindang, tampak sekelompok anak-anak sedang menyimak pelajaran yang diberikan oleh seorang guru, uniknya, diantara anak–anak itu terlihat seorang kakek duduk bersama mereka, ikut menyimak pelajaran yang diberikan oleh sang guru, kejadian aneh itu ternyata menarik perhatian pemuda yang kebetulan melewati tempat tersebut. Sesuai pelajaran, pemuda yang penasaran tadi menghampiri sang kakek, bertanyalah dia kepada si kakek:

“Kek, apakah kakek seorang guru?

“Bukan…….., jawab si kakek

“Kalau bukan guru, mengapa kakek ikut duduk bersama anak-anak tadi?” si pemuda tambah penasaran

“Apa salahnya duduk dengan anak – anak itu? Ketahuilah aku tadi sedang belajar dengan anak – anak itu,”

"Lho, pelajaran tadi kan untuk anak-anak….., bukan untuk orang tua seperti kakek. Memangnya berapa umur kakek? Kok tidak malu belajar bersama dengan anak-anak itu?”

“Umur ku tahun ini tepat sepuluh tahun…” jawab si kakek itu 

kesenangan sesaat. Coba pikir, bukanlah 60 tahun yang telah kulewati itu sia sia belaka?’

“Bagaimana dengan sepuluh tahun terakhir?

Dengan mata berkaca-kaca si kakek berkata, “sepuluh tahun terakhir ini aku baru sadar, bahwa 60 tahun hidupku telah kulalui tanpa makan, tanpa tujuan, dan tanpa cita-cita…inilah sebab-akibat, inilah akibat karmaku yang dilakukan pada masa lalu. aku sudah bangkrut, jatuh miskin, sebatang kara, tidak punya teman yang bisa membantu, dan hanya hidup dari belas kasihan orang lain. Tetapi sejak kesadaran itu muncul, aku merasa seperti baru lahir kembali dan memutuskan untuk belajar hidup dari awal lagi,”

Setelah berhenti sejenak si kakek meneruskan kata-katanya

“Anak muda… jangan meniru seperti apa yang telah aku jalani. Karena, waktu adalah modal utama yang dimiliki setiap manusia. Pergunakanlah dengan sebaik-baiknya untuk belajar, berusaha, dan berkarir. Gunakan waktumu untuk tujuan yang mulia, maka kelak di hari tuamu kau akan merasa bahagia. Karena kehidupanmu bukan hanya berguna bagi diri mu sendiri, tetapi juga harus berarti bagi orang lain.’